Gerakan Ekonomi Kerakyatan Versi GAIR: Membangun Kemandirian Rakyat dari Akar Rumput

Dalam upaya memperkuat posisi rakyat sebagai fondasi pembangunan nasional, Garda Alternatif dan Inovasi Rakyat (GAIR) menghadirkan konsep Gerakan Ekonomi Kerakyatan sebagai strategi besar untuk mendorong keadilan ekonomi di seluruh lapisan masyarakat. Menurut Sekretaris Jenderal (Sekjen) GAIR, Budi Gunawan, gerakan ini lahir dari kegelisahan melihat masih lebarnya ketimpangan ekonomi yang dirasakan rakyat kecil.

“Ekonomi kerakyatan bukan sekadar slogan. Ini adalah gerakan nyata yang menempatkan rakyat sebagai subjek pembangunan, bukan objek,” ujar Budi Gunawan.

Memperkuat UMKM sebagai Pilar Utama

Dalam penjelasannya, Budi Gunawan menegaskan bahwa sektor UMKM akan menjadi motor penggerak utama. GAIR menilai UMKM adalah benteng terakhir yang mampu bertahan saat krisis, termasuk saat pandemi dan gejolak ekonomi global.

“UMKM itu bukan ekonomi kelas dua. Justru di situlah kekuatan bangsa berada. Tugas kita adalah memperkuat ekosistemnya, bukan sekadar memberikan bantuan sementara,” jelas Budi.

GAIR mendorong program pendampingan UMKM berbasis komunitas, pembukaan akses permodalan, serta digitalisasi usaha agar pelaku industri kecil mampu bersaing di level nasional maupun internasional.

Ekonomi Gotong Royong Sebagai Identitas Bangsa

Gerakan Ekonomi Kerakyatan GAIR juga menempatkan nilai gotong royong sebagai prinsip utama. Kolaborasi antara kelompok masyarakat, komunitas lokal, koperasi, hingga pelaku usaha menjadi dasar dalam membangun ekonomi yang inklusif.

“Kita tidak ingin rakyat berjalan sendiri. Ekonomi kerakyatan hanya akan kuat jika dibangun secara kolektif. Gotong royong adalah DNA bangsa Indonesia, dan GAIR ingin mengembalikan itu ke tengah masyarakat,” ujar Sekjen GAIR tersebut.

Mendorong Inovasi dan Kemandirian Desa

Selain itu, GAIR juga memprioritaskan pembangunan ekonomi desa sebagai titik awal pemerataan. Menurut Budi Gunawan, desa adalah pusat produksi yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

“Desa harus menjadi pusat inovasi. Bukan hanya penghasil bahan mentah, tetapi juga mampu menciptakan nilai tambah melalui kreativitas dan teknologi,” tegasnya.

Program seperti pembentukan koperasi digital, sentra produksi berbasis potensi lokal, hingga pelatihan kewirausahaan akan diintegrasikan dalam Gerakan Ekonomi Kerakyatan GAIR.

Keadilan Ekonomi sebagai Komitmen Politik

Lebih jauh, Budi Gunawan menegaskan bahwa gerakan ini bukan agenda sesaat, tetapi komitmen jangka panjang GAIR untuk memastikan rakyat mendapatkan hak ekonomi secara adil.

“Keadilan ekonomi adalah hak setiap warga negara. GAIR berdiri untuk memastikan suara rakyat kecil menjadi pusat kebijakan, bukan pelengkap statistik,” ujarnya.

Penutup

Gerakan Ekonomi Kerakyatan versi GAIR menggambarkan sebuah visi baru: rakyat kuat, negara berdaulat. Dengan menempatkan rakyat sebagai fondasi pembangunan melalui UMKM, gotong royong, dan inovasi desa, GAIR berharap lahirnya tatanan ekonomi baru yang lebih adil, mandiri, dan berkelanjutan.

Sebagaimana ditegaskan Sekjen GAIR, Budi Gunawan, “Ini bukan sekadar program ekonomi. Ini adalah gerakan perubahan. Gerakan rakyat untuk masa depan bangsa.”

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *